Lubuk Prohibition Customs in the Style of the Muara Siau Community to Protect the River

Main Article Content

Ruwaiza Sasmita

Abstract

In their lives, Indigenous people always maintain a balance between nature and humans, and the Lubuk Larangan custom is a form of maintaining the balance of nature. Muara Siau Village is an area that has cultural and natural tourism potential that can be developed, including the potential of Lubuk Larangan and this underlies the implementation of this research. This research uses the descriptive-analytical method and uses two techniques for data collection. The first data collection technique was carried out through library research. The second technique of data collection in this study was carried out through field research. The results of this study show that the purpose of managing Lubuk Larangan is to protect the Lubuk Larangan area, and the management mechanism of Lubuk Larangan starts with supervision, regulation, and giving sanctions, as well as procedures for harvesting.

Article Details

How to Cite
Sasmita, Ruwaiza. “Lubuk Prohibition Customs in the Style of the Muara Siau Community to Protect the River”. Adil : Jurnal Hukum STIH YPM 4, no. 2 (February 15, 2023): 50-56. Accessed April 29, 2026. https://adil.stihypm.ac.id/index.php/ojs/article/view/85.
Section
Articles

References

Afrianti, S. (2020). Rimbo Larangan Kearifan Lokal Masyarakat Minang Kabau untuk Menjaga Kelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Agroprimatech, 3(2), 74-78.

Amanda, I. C. D. (2018). Identifikasi Bentuk-bentuk Kearifan Lokal dalam Sistem Religi Masyarakat Situs Sangiran Studi Kasus di Kecamatan Gondan-grejo, Karanganyar. the Jurnal Sangiran, VII/1, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Sragen.

Chandra, F. (2023). Antropologi Hukum Dalam Masyarakat. Adagium: Jurnal Ilmiah Hukum, 1(1), 1-11.

Chandra, F. (2020). Peran Masyarakat Hukum Adat Dalam Mewujudkan Pelestarian Lingkungan Hidup. Ekopendia, 5(1), 103-110.

Edy Sedyawati. (2006) Budaya Indonesia, Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hadi, R. (2019). Tradisi Ritual Ngayu-Ayu Dalam Menjaga Kelestarian Alam. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 4(5).

Harmaini, H., & Chandra, F. (2020). Selayang Pandang Hukum Adat di Kabupaten Merangin: Kajian Masyarakat Hukum Adat. ADIL, 2(1), 32-39.

Harmaini, H., Chandra, F., Kusaimah, K., & Susanti, J. (2022). Kehidupan Suku Anak Dalam Dengan Masyarakat di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun. ADIL, 4(2), 63-76.

Harsoyo. (1977). Manajemen Kinerja. Jakarta: Persada

Hutapea, H. M., & Lestarini, R. (2023). Tinjauan Kedudukan Dan Peran Kunci Intelektualitas Adat Sasi di Maluku Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Cakrawala Repositori IMWI, 6(1), 93-102.

Nasiwan, dkk. (2012). Dasar – Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta : Ombak.

Njatrijani, R. (2018). Kearifan lokal dalam perspektif budaya Kota Semarang. Gema Keadilan, 5(1), 16-31.

Prabowo, Y. B., & Sudrajat, S. (2021). Kearifan Lokal Kasepuhan Ciptagelar: Pertanian Sebagai Simbol Budaya & Keselarasan Alam. Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, 3(1), 6-16.

Sari, F. K., Chandra, F., & Rapiq, W. M. (2023). Penerapan Sanksi Hukum Adat Terhadap Penebangan Hutan Di Desa Muara Madras. SEMBILAN: Jurnal Hukum dan Adat, 1(2), 75-84.

Sharon, S. S., & Paranoan, S. (2020). Refleksi Rumah Adat Ammatoa Dalam Akuntabilitas Organisasi. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 11(1), 59-76.

Sonia, T., & Sarwoprasodjo, S. (2020). Peran lembaga adat dalam pelestarian budaya masyarakat adat kampung naga, desa neglasari, kecamatan salawu, tasikmalaya. Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM], 4(1), 113-124.