Realisasi Prinsip Kerja Sama Percakapan dalam Acara Hitam Putih di Trans 7
Bilah Samping Artikel
Isi Artikel Utama
Abstrak
Di dalam komunikasi yang wajar agaknya dapat diasumsikan bahwa seorang penutur mengartikulasikan ujaran dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada lawan tuturnya, dan berharap lawan tuturnya dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan itu. Untuk itu penutur selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan mudah dipahami, padat dan ringkas dan selalu pada persoalan, sehingga tidak menghabiskan waktu lawan bicaranya. Dalam merealisasikan prinsip kerja sama, setiap penutur harus mematuhi empat maksim percakapan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan realisasi maksim percakapan dalam acara Hitam Putih di Trans7. Fokus penelitian ini berkaitan dengan realisasi dan pelanggaran pelanggaran maksim percakapan yang terdapat dalam acara Hitam Putih di Trans7.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data penelitian ini adalah percakapan antara pembawa acara dengan narasumber dalam acara Hitam Putih di Trans7. Data yang diambil adalah edisi 1 Agustus 2017 dengan tema Perwira Peraih Adhi Makayasa.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa tuturan dalam acara Hitam Putih di Trans7 telah merealisasikan prinsip kerja sama percakapan, yakni: maksim kuantitas; maksim kualitas; maksim relevansi; maksim pelaksanaan atau cara. Di samping mematuhi prinsip kerja sama percakapan tersebut, tuturan dalam acara Hitam Putih di Trans7 terdapat juga pelanggaran maksim pada saat berbicara baik oleh pembawa acara mapun oleh narasumber.
Rincian Artikel

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.